Rabu, 08 April 2015

GARA-GARA KAJIAN

Dulu saya sempat menyukai menulis, sampai sekarang pun menulis masih menjadi kegemaranku, nulis status, hehee. Banyak sudah kompetisi yang pernah saya ikuti, dan yang ini nih, salah satu karangan fiksi yang hampir nyata *ngumpet kolong meja* yang mungkin kurang menarik sehingga belum bisa lolos seleksi. Yah....Nggak papa sih, namanya juga lagi belajar. Selamat membaca.





Senja menjelang. Badanku masih penuh dengan peluh. Baru saja kami menyelesaikan sepak bola di halaman masjid. Lelah sepulang kuliah tidak menjadi halangan untuk tetap bermain. Canda tawa, kami lalui bersama. Kebersamaan ini menjadi penghibur ketika tugas kuliah menumpuk begitu tinggi.

Sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman sesama santri, mungkin aku termasuk santri yang bisa dibilang berkecukupan dalam segi finansial. Bukan! Bukan karena aku sudah bekerja atau punya usaha. Tapi itu semua dari bapak. Aku belum bisa menghasilkan uang. Aku belum sepenuhnya mandiri. Jika uang dalam dompetku habis, aku hanya bisa merengek meminta pada orang tua. Bapakku adalah seorang PNS, guru di salah satu SD di kampungku. Sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga yang kadang membantu bapak mencari rejeki. Aku punya dua orang adik. Yang pertama di bangku kuliah, yang kedua masuk tahun pertama di bangku SMP.

Aku mahasiswa semester empat Kesehatan di Perguruan Tinggi Swasta Purwokerto. Banyak hal yang masih belum kumengerti. Apalagi kuliah, aku sering lalai dan menyepelekan tugas yang diberikan dosen. Sifatku yang kekanak-kanakan ketika SMA masih terbawa hingga saat ini.

Selama satu setengah tahun terakhir, sifat kekanak-kanakan itu menjadi ciri khasku dibanding dengan santri lain. Oh iya, perkenalkan aku juga seorang santri di salah satu pesantren khusus untuk di tinggali mahasiswa. Predikatku sebagai santri tidak mencegahku dari dunia musik. Aku masih sering mendengarkan musik sebelum tidur. Aku masih gemar menonton film. Bermain game pun menjadi bagian dari aktivitasku saat itu. Semuanya mempengaruhi prestasi kuliah yang semakin menurun. Akibatnya, tugas-tugas kuliah terabaikan. Bahkan aku pernah sampai dihukum dosen gara-gara lupa tidak mengumpulkan tugas. Memang, walau sifatku yang seperti itu, tapi aku tetap saja mempunyai rasa malu. Masa, santri sampai lupa tidak mengerjakan tugas. Padahal seharusnya, mahasiswa yang nyantri harus menjadi teladan bagi yang tidak nyantri.

Yah. Itu satu setengah tahun terakhir yang aku lewati. Bagaimanapun, pesantrenku semakin hari semakin sering menyelenggarakan kajian. Kajian-kajian itu semakin hari semakin membuatku termotivasi. Bagaimana cara meraih mimpi dan cita-cita. Kini, sedikitnya ada perubahan yang aku rasakan. Sifat kekanak-kanakan itu mulai terkikis seiring berjalannya waktu. Apalagi, banyak teman santri satu angkatan yang sering menceritakan prestasi-prestasi yang mereka raih. Mulai dari prestasi akademik hingga non akademik.

Mendengar mereka bercerita dengan rasa bangga, ada semacam beban yang pelan-pelan terasa. Aku merasakan kesedihan, bahkan hendak menangis. Aku ingin berteriak, “Haahh, Apa yang aku lakukan selama ini? Aku hanya menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah. Aku terlalu banyak melakukan hal bodoh. Bagaimana nanti jika kedua orang tua menanyai kuliahku? Bagaimana nanti jika pihak pesantren pun menanyai hal yang sama? Akan kujawab apa pertanyaan itu?   

Aku sedih. Aku teringat bapak dengan kerja kerasnya mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anaknya. Aku ingat bagaimana bapak harus bekerja siang malam untuk membiayaiku, sebelum beliau diangkat menjadi pegaawai lima tahun lalu. Dengan gaji pokok sebagai guru yang tidak seberapa, bapak harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan. Beliau menjadi sopir angkudes ketika orang lain beristirahat, setelah Asar. Berangkat Asar, pulang jam delapan malam. Jarang sekali bapak istirahat, sehingga shalat Subuh kadang kebablasan.

Tidak jarang, Bapak jatuh sakit karena pulang basah kuyup ketika musim hujan. Pekerjaan serabutan dilakoni bapak selama sembilan tahun terakhir. Bapak tidak mengeluh, beliau tetap semangat demi memenuhi kebutuhan kehidupan, demi kelancaran pendidikan anak-anaknya.

Kemudian ibu. Untuk memenuhi kebutuhanku di tempat rantau, ibu berdagang kecil-kecilan di SD yang bapak tempati. Berjualan jajanan ringan, lontong untuk sarapan dan sejenisnya. Keuntungannya memang kecil, tapi setelah dikumpulkan dalam satu bulan, Alhamdulillah uang itu bisa mencukupi kebutuhanku satu bulan ke depan. 

Subhanallah. Mereka semua berjuang demi kelancaranku meraih cita-cita. Sementara aku hanya bermain-main saja. Ini adalah balas budi yang tidak baik. Bukan begini harapan orang tua. Hah, kenapa aku begini? Aku ini anak pertama, seharusnya menjadi contoh bagi adik-adikku. Memberikan panutan yang patut untuk ditiru. Dan kelak akan menjadi harapan keluarga.

Mulai hari itu, sepulang kajian dengan bahasan Bagaimana Jerih Payah Orang Tua Membesarkan Anaknya. Aku segera membenah diri. Aku tidak ingin hidup hanya seperti ini, dipenuhi bermain tanpa memikirkan masa depan. Aku ingin menjadi kebanggaan orang tua. Aku tidak ingin bergantung terus pada keduanya.

Kini, sudah banyak kerutan di wajah mereka. Sudah banyak rambut yang beruban pula. Tenaganya sudah tidak sekuat dulu lagi saat masih muda. Aku harus bisa mandiri menghidupi diri sendiri. Alhamdulillah waktu itu ada yang menawariku pekerjaan. Tanpa pikir panjang aku terima, karena memang pekerjaan itu halal. Yah, walaupun penghasilannya tidak bisa membayar dan mencukupi keperluan kuliahku, tapi setidaknya dapat meringankan beban orang tua. Aku makan dari uang jerih payahku sendiri. Masya Allah, begitu senangnya ternyata.

Lagi-lagi teman-temanku menceritakan prestasi yang mereka raih. Membuat aku semakin iri, dan terpacu ingin bersaing dengan mereka. Aku tidak hanya ingin menjadi pendengar mereka. Aku pun ingin dan akan meraih apa yang mereka bisa raih. Aku juga ingin mengalami apa yang mereka alami. Mulai saat itu aku berubah 180 derajat. Semua hal yang sia-sia, aku tinggalkan. Mendengarkan musik, menonton film, tidur-tiduran aku jauhi. Biasanya aku tidur lebih dari delapan jam sehari. Itu dihitung sudah dengan tidur siang. Saat ini tidur pun aku kurangi. Uang jatah makanku aku sisihkan untuk kubelanjakan membeli buku. Agar wawasanku luas dan bertambah.

Aku mulai merajut mimpi-mimpiku. Aku tuliskan satu demi satu mimpiku pada dua lembar kertas. Aku tulis semua hal yang aku inginkan. Aku terinspirasi mereka. Aku ingin menjadi penulis yang di setiap kalimatnya terkandung nasihat yang bermanfaat bagi para pembacanya, sehingga para pembaca dapat terinspirasi dan melakukan kebajikan itu. Hal tersebut dapat mengalirkan pahala padaku.

Seperti yang telah dijelaskan dalam sebuah hadis “Barang siapa yang memberikan contoh melakukan kebaikan, kemudian perbuatannya diikuti orang. Maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang tersebut.”
Untuk hal tulis menulis aku selalu terinspirasi oleh Ustadz Arian Sahidi, Mas Yogi Baskara, Arifin Budi, Sarip Subandi, Mas Udin, dan masih banyak lagi penulis-penulis lainnya.

Menghafal Qur’an adalah mimpiku selanjutnya. Aku terdorong dan terinspirasi anak-anak kecil yang sudah bisa menghafal Al Qur’an. Aku sering menangis melihat mereka begitu lancarnya melafalkan kalam-kalamNya yang begitu indah. Ustadz Sofwan Al Hafidz dan Ustadz Rian Al Hafidz pun berhasil membuatku semakin bertambah iri. Keduanya mempunyai suara yang begitu merdu dan sulit untuk ditiru. Dari rangsangan-rangsangan tersebut aku ingin menjadi hafidz Qur’an seperti mereka, pasti kedua orang tua pun akan bangga. Dan bukankah penghafal Al Qur’an akan dimuliakan oleh Allah sebagaimana sabda Rasulullah saw “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan kaum yang lain” (HR. Muslim).

Ulil Fiqi telah memulai dan mendahuluiku. Dia telah genap menghafal juz tiga puluh, juz satu dan dua. Masya Allah, hebatnya. Mas Udin ternyata juga sama, namun beda juz yang dihafal, yakni juz tiga puluh, dua sembilan dan hampir menyelesaikan juz dua delapan. Mereka berdua menjadi teman saat aku mengalami kesusahan menghafal. Saling memberikan arahan dan nasihat saat kemalasan datang. Memang benar apa yang pernah disabdakan suritauladan kita, Rasulullah saw. Bahwa Beliau bersabda
“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Bergaul dengan penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau
akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara bergaul dengan pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Betapa beruntungnya aku bisa ditemukan dengan mereka semua menjadi satu keluarga. Saling berwasiat dalam kebajikan, berbagi manfaat, dan saling memberi kalimat semangat.

Alhamdulillah. Saat ini dua juz sudah terhafal. Ketika aku kabarkan pada orang tua, mereka begitu senangnya. Apalagi saat aku pulang ke rumah. Bapak selalu menunjukku untuk memimpin shalat di masjid terdekat.

Aku akan selalu belajar, beribadah, bekerja, dan berdoa untuk kelancaran masa depanku. Aku sedang menanti kesuksesan itu. Menjadi manusia yang beruntung setiap harinya. Mencoba memperbaiki diri di pergantian hari.
“Merugilah manusia, jika hari ini sama dengan hari kemarinnya. Dan hari selanjutnya sama dengan hari ini.” Kalimat bijak yang aku pegang untuk selalu mawas diri.
Keep Spirit J

Tentang Penulis
Jovi Ardan terlahir sebagai anak pertama dari kedua orang tuanya. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, sekaligus menjadi santri di Pesantren Mahasiswa Mafaza. Penulis mencoba menuangkan pengalaman hidupnya dengan kisah-kisah inspiratif di lembaran-lembaran kertas.

Ingin lebih tahu mengenai penulis, silahkan hubungi melalui Whatsapp 081903156990, Facebook Jovi Ardan, email joviardan@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . JOVI ARDAN BLOG - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger