Rabu, 29 April 2015

SETELAH KESULITAN ADA KEMUDAHAN

Alhamdulillah, kali ini adalah salah satu tulisan saya yang lolos seleksi kepenulisan. Mudah-mudahan memberikan manfaat. Amin. Cekidot.

By Jovi Ardan

Mimpi, setiap orang pasti mempunyainya. Mimpi, menjadikan seseorang memiliki semangat dalam menjalani hidupnya. Mimpi, dapat mengubah keadaan seseorang, baik pada segi psikologi, pola pikir, maupun perilakunya. Karena mimpi, hidup menjadi lebih berarti. Hidup akan penuh warna, seiring dengan usaha untuk menggapai mimpi.

Aku adalah manusia biasa pada umumnya, tidak ada bedanya sama sekali. Hanya taqwalah yang Allah jadikan sebagai pembeda derajat antara manusia satu dengan manusia lainnya. Aku juga mempunyai mimpi. Mimpi yang dimiliki setiap orang tua. Ya, betul. Aku ingin menjadi seorang hafidz Qur’an. Menjaga bacaan Al Qur’an dalam diri, hati, dan pikiran.

Ketika keinginanku (mimpi) ini kusampaikan pada kedua orang tua. Sungguh aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan ekspresi wajah mereka. Gembira dan haru yang kulihat dari raut keduanya. Aku yakin, rasa itu bercampur menjadi satu memenuhi relung hati mereka. Senyum keduanya merekah bagai bunga-bunga yang bermekaran.

Apalagi ibu, beliau menangis terharu saat mendengar ucapanku. Beliau sentak saja memelukku dan berjanji akan selalu mendoakanku disetiap akhir shalatnya. Dalam batinku berucap “MasyaAllah, ibu sebegitu bahagianya, sebegitu perhatiannya padaku. Aku harus sungguh-sungguh dalam menjalani proses menghafal.”   

Bapak. Walaupun bapak adalah orang yang kelihatannya selalu tidak peduli. Tapi dari raut wajahnya, aku yakin bahwa dalam hati yang terdalam, beliau mengatakan “Bapak bangga padamu, Nak. Lanjutkan perjuanganmu. Gapai mimpimu. Bapak akan selalu mendoakanmu.” Bapak adalah orang yang peduli dalam diamnya. Semasa SD hingga SMA, keberadaanku selalu ditanyakannya. Hanya saja, bapak tidak pernah menanyaiku secara langsung. Bapak hanya berani bertanya pada ibu dan kedua adikku. Mungkin bapak terlalu malu dengan putra pertamanya ini. Putra yang memikul amanah, harus menjadi teladan bagi adik-adiknya. Putra yang akan menjadi harapan keluarga kelak. “InsyaAllah, Pak. Aku mengerti tentang yang Bapak maksud. Aku akan ingat perjuanganmu membesarkanku dengan jerih payahmu.”Gumamku dalam hati.

Sore itu aku di ruang sound Masjid Fatimah, tempat dimana biasanya aku menghafal kalam-kalamNya. Setelah shalat Ashar, telah terhafal surat Al Ma’arij *Alhamdulillah*. Butuh waktu seminggu untuk menghafalnya. Surat Al Ma’arij tidak terlalu susah bagiku, karena sebelumnya aku sangat menyukai surat ini. Ketika ustadz Rian atau ustadz Sofwan membacanya dalam shalat berjamaah, aku betul-betul terkesima dan menghayatinya satu demi satu ayat yang dilafalkan. Terasa sejuk didengar. *Subhanallah*

Setelah surat Al Ma’arij terhafal. Kini surat Al Haqqah yang aku prioritaskan selanjutnya, mengingat ayat-ayat dalam surat Al Jin sangat panjang dibanding surat Al Haqqah. Jika dua surat ini telah terhafal, maka juz dua puluh sembilanaku telah menyelesaikannya. *Insya Allah*

Sudah hampir seminggu kulalui. Sepuluh ayat yang baru kuhafal, dari lima puluh dua ayat surat Al Haqqah. Bahkan, jika aku tidak melihat mushaf Qur’an, bacaanku tak benar-benar lancar. Ada apa denganku ini? Tidak biasanya seperti ini. Dengan berbagai upaya aku kembali menghafalnya, tapi tetap tidak ada perubahan. Tetapsaja, aku kesulitan menghafal.

Ayat demi ayatnya serasa begitu asing, begitu sulit untuk dilafalkan. Lidahku kelu untuk melafalkannya kembali. Aku kelelahan mengulang-ulang ayatnya. Sering kali aku ingin menangis. Aku jengkel pada surat ini, dan pernah menyatakan ingin berhenti dari perjuangan ini. Berhenti sampai disini. “Biarlah cukup sampai disini, sudah banyak surat yang aku hafal.”

Nampaknya, Allah tidak setuju dengan keputusanku. Allah mengingatkanku pada dua ayat dalam surat Al Insyirah yang berbunyi“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (4). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5)” Allah memberiku kalimat semangatnya, bahwa setelah adanya kesulitan pasti ada kemudahan.

Ternyata memang benar. Lalu Allah datangkan teman-temanku sebagai pelipur lara. UlilFiqi yang mendengaraku akan berhenti menghafal, dia menasehatiku. “Istighfar, Jov. Istiqamah, tetap semangat” tegur Ulil. *Astaghfirullahaladzim* Apa yang aku lakukan. Aku telah berikrar akan menjadi seorang hafidz, mengapa aku harus berhenti karena cobaan yang sekecil itu. Ulil saja hampir menyelesaikan surat Al Baqarah, masa aku harus berhenti di surat Al Ma’arij.

Kemudian Allah pun menghadirkan Mas Udin menemani dan membimbingku dalam menghafal surat Al Haqqah. Kami sering murojaah bersama, saling membenarkan jika ada yang salah satu sama lain. Dan selang beberapa hari kemudian, akhirnya surat Al Haqqah terhafal juga. Aku ingin menangis tapi sulit sekali meneteskan air mata. Ucapan syukur Alhamdulillah terucap keluar dari mulutku. Bahagiaku membuncah, memenuhi ruang dalam hati.

Tidak hanya itu saja  yang mengingatkanku untuk kembali bersemangat dalam menghafal. Aku teringat wajah kedua orang tuaku yang begitu bahagianya mendengaraku ingin menjadi seorang hafidz. Aku tidak ingin mengecewakan keduanya karena keputusasaanku. Aku yakin, berkat doa kedua orang tuaku juga, sehingga aku merampungkan juz dua puluh sembilan. Alhamdulillah, kini aku akan melanjutkan menghafal di juz dua puluh delapan.

Akan kuingat selalu ayat ini“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (4). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5)”. Tidak hanya dalam masalah yang hadir dalam menghafal, melainkan untuk semua masalah, dan kesulitan yang menimpaku dalam kehidupan sehari-hari.

Keep Spirit J
Tentang Penulis
Jovi Ardan yang dilahirkan 20 tahun silam mempunyai impian menjadi hafidz Qur’an. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di STIKes Harapan Bangsa Purwokerto. Menjad isantri di Pesantren Mahasiswa Masjid Fatimatuzzahra. Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai penulis silahkan Hub. Whatsapp 081903156990, Facebook Jovi Ardan, e-mail joviardan@gmail.com.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . JOVI ARDAN BLOG - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger