Rabu, 16 Juli 2014

PERTEMUANKU DENGAN PESMA


Aku adalah seorang santri, santri dari Pesantren Mahasiswa (Pesma) Masjid Fatimatuzzahra (Mafaza). Menjadi santri adalah cita-citaku sejak dulu. Sayangnya baru kali ini bisa tercapai, Ya tidak apa-apa, aku tetap menyukai dan mensyukuri apa yang Allah rencanakan pada diri ini.

Kala itu aku lulus SMA, tidak ada perencanaan sebelumnya aku tinggal dan menjadi santri di masjid Fatimah. Berawal dari diterimanya aku di Stikes Harapan Bangsa Purwokerto. Aku dalam keadaan bingung waktu itu. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri,

Dimana aku akan tinggal nanti?

Bagaimana nanti pergaulanku?

Bagaimana nanti keadaan agamaku disana?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul menyeruak di dalam dada.
“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek
seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan)
penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak
wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau
akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk
dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan
bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)

Mungkin Allah telah menggariskanku menjadi orang yang dijauhkan dari perbuatan maksiat. Allah tidak mau melihat hambanya ini terjerumus ke jurang kesesatan. Sehingga pada suatu malam dibulan Ramadhan teman bapak, sekaligus bekas tetangga kami dulu datang ke rumah bersilaturrahim, dia menanyaiku,

“Kuliah dimana?”,

“Purwokerto ustadz”,

“Owh, sudah punya tempat untuk ditinggali disana?”,

“Belum ustadz, saya masih bingung.”,

“Kalo begitu tinggal di Masjid Fatimatuzzahra saja, disana seperti dewan dakwah. Jadi hampir setiap hari ada kegiatan yang bermanfaat. Insya Allah, pergaulanmu terjaga.”

“Wah, sepertinya saya tertarik ustadz, dimana itu tempatnya?”

“Di tengah-tengah komplek kampus Universitas Jendral Soedirman, nanti tanggal *sekian saya berada disana, kamu datang saja, biar saya perkenalkan dengan takmirnya.”

“Baiklah ustadz, akan saya usahakan”. Jawabku mengakhiri percakapan.

Tanggal yang ditetapkan telah tiba, aku pun berangkat kesekian kalinya menuju Purwokerto, kota Kesatria. Aku baru tahu kalau ada masjid yang begini, masjid yang tidak mempunyai tembok yang menyekati pada ujung di sisi-sisinya.

Waktu itu aku belum tahu apa filosofi di balik semua ini. Yang terpikirkan itu hanya…. “Wah keren, masjidnya gede, nanti jika aku adzan disini, pasti suaranya bakal kemana-mana, hee.” *Pikirku jika aku diterima di Mafaza

Sedikit bingung dan kesasar saat menuju ke masjid, karena awal kalinya aku kesini.

Aku pun bertemu dengan ustadz Hasan yang pernah bersilaturrahim ke rumah dan menawarkan untuk tinggal di masjid yang megah ini. Aku mengucapkan salam padanya dan kami pun memulai perbincangan mengenai keseriusanku. 
“Akankah aku mau tinggal setelah melihat masjid Fatimah”. Begitu pertanyaan itu keluar, aku langsung menjawab “Ya, Aku bersedia ustadz.” Hehe aku membuat pertanyaan dan kujawab sendiri.

Kemudian ustadz memberikan contact person mas Dayat selaku kenalannya di Mafaza, aku disuruhnya untuk menghubungi contact tersebut. *Aku menghubungi mas dayat, kami pun bertemu di Gedung Serba Guna Mafaza sekitar sore hari. Aku berbincang-bincang mengenai keminatanku tinggal di Mafaza, kemudian dia memanggil seseorang yang saat itu aku belum mengenalnya. Ya dia ustadz Yogi, ketua takmir harian yang kini meninggalkan Mafaza untuk sementara, menjalani tugas negara, karena bagiku dia akan kembali, kembali ke masjid ini, memakmurkan masjid dan menyusun mimpi-mimpi besar lagi.

Aku tidak tahu di mafaza menawarkan dua macam program, satu Pesantren Mahasiswa / PESMA *yang saat ini aku didalamnya dan satunya adalah Quliatul Qur’an *program penghafal Al Qur’an. Niatnya aku mau daftar program Pesantren Mahasiswa, ehh berhubung kurangnya informasi yang aku dapat kala itu, aku masuk ke program Quliatul Qur’an *Aku nyasar pemirsa.

Saat malam tiba, para santri Quliatul Qur’an dikumpulkan untuk ditest bacaan dan hafalan oleh ustadz Sofwan. Owh ini ustadz Sofwan yang suaranya merdu, yang punya beberapa variasi lagu Qur’an itu toh. Wah keren-keren, nggak sia-sia aku kemari untuk menyantri. “Ya giliran kamu!”, ustadz Sofwan menunjukku setelah menguji beberapa santri Quliatul Qur’an lainnya. Wadduh sudah lama hafalanku tidak aku murojaah, bagaimana ini? Jantung berdetak tidak karu-karuan. Ehhh dengan PDnya “An Naba” terucap keluar dari mulutku saat ditanya mau surat apa kamu.

Beberapa ayat aku lafalkan, “Ya sudah cukup!!” ustadz Sofwan memberhentikanku yang sedang melafalkan hafalanku, aku berpikir dalam hati, pasti banyak yang keliru, *Aduh malunya, banyak para penghafal kala itu. “Kamu belajar lagi ya!” “Iya ustadz” jawabku malu.

Selesai pertemuan itu, aku tidak menyia-nyiakan waktuku untuk bersantai, aku menghafal An Naba lagi, surah yang dulu pernah aku jadikan bacaan sholat waktu kecil.. Sedikit bercerita, kenapa aku hafal? Ingatanku bagus saat aku kecil, padahal tidak membaca, hanya mendengarkan dari sebuah tipe / radio syekh Hany Ar Ri’fai yang bapak setel waktu pagi hari.

Mungkin karena hafal dari mendengarkan saja, banyak tajwid dan makhraj bacaan yang kurang tepat, sehingga ustadz mencukupkan pada ayat yang ke sepuluh.

Saat aku sedang asyik-asyiknya menghafal untuk persiapan test pada ba’da Subuh besok, aku mendengar sepertinya ada yang sedang berceramah di tengah malam. Aku penasaran, kemudian aku menghampirinya, dalam hati berucap “Ini ramai sekali *sekitar 15 orang yang mendengarkan. Sedang apa mereka?” aku berdiri di samping jendela kaca berwarna hitam, aku ditegur sapa oleh mas Rizki,

“Assalam, Mau ikutan apa?”

“Wa'alaikum salam, Tapi mas?”

“Ya ikut saja, Hayoo masuk!!” Mas Riski menggandengku, mendekapku dan menciumku membawa masuk.. *Nggak-enggak itu Cuma bercanda, jangan dibayangkan lho yah!  masa aku menolak. NOH!!

Lanjut kecerita, Ustadz Yogi selaku pengisi acara, kemudian memperkenalkanku dengan para santri, yang notabene mereka juga santri baru, mahasiswa baru sepertiku.

Tutur Ustadz Yogi memperkenalkanku. “Baik teman-teman, ini akan menjadi teman anda sekalian di Pesma nanti, namanya Mas Jovi dari Pemalang. Ada yang dari pemalang juga?” Imam dan Ulil Fiqi mengangkat tangannya.

Selesai acara, aku berkemas dari masjid menuju Pesma setelah ijin dengan beliau, aku menjadi anak Pesma sekarang bukan Quliatul Qur’an… *Hiyaaaa, horree  prok prok prok aku tidak jadi bertemu ustadz Sofwan besok, heee.
Secara, Ustadz Sofwan teliti dalam menyimak, aku jadi takut dan malu. *Tapi itu dulu, sekarang sudah berkurang rasa malu itu karena banyak belajar dari ustadz Toha, ustadz Muhyudin, dan ustadz Ismet.

Aku tidak menemukan kamar yang belum dihuni, kecuali bekas gudang, rencana besok mau kuberesi dan kutata rapi. Aku menginap dan menitipkan tasku di kamar Ulil Fiqi dan Pahri. Aku canggung dengan mereka, mereka begitu pendiam awal-awal. Pahri dengan badan yang gede dan begitu tingginya, aku kira dia preman, SEREM!! *Karena aku pernah dibekali ilmu bela diri, rasa takut itu sedikit teratasi... 
Ini bukti saya belajar bela diri
Malam semakin larut dan waktunya untuk tidur. Nyamuknya itu lho banyak banget, aku putuskan untuk tidur di masjid beberapa hari ini, *Hee anak pesma yang mblaur

Banyak keceriaan, canda tawa berbagi satu sama lain, kepedulian, perhatian, kadang juga nonton film bersama*noh, makan berjamaah dalam satu nampan *Tapi jangan pernah berpikir mandi berjamaah dalam satu toilet lho yah.

Makan Bersama
AKU TIDAK MELIHAT DAN PEDULI BANGUNAN YANG AKU TEMPATI, GUBUG REYOT NAN HAMPIR RUSAK. DISITULAH MIMPI-MIMPIKU BERSEMANGAT UNTUK KUGAPAI. AKU BERTEMU DENGAN MEREKA, MEREKA YANG AKAN MENJADI TEMANKU NANTI DI SURGANYA ALLAH, INSYA ALLAH.

Bangunan PESMA Baru
 AKU BAHAGIA JADI BAGIAN DARI PESMA, MIMPIKU TERWUJUD MENJADI SANTRI PESANTREN. SUBHANALLAH WALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIN 

Angkatan 2010-2013
 Semoga Allah Memberkahi


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . JOVI ARDAN BLOG - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger