Selasa, 19 Agustus 2014

TERINGAT KEMBALI

14 Agustus 2014

          Tanggal 14 tiba. Itu artinya saya dan teman-teman mahasiswa Keperawatan 4C akan mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas, tepatnya kami akan di tempatkan di Instalasi Kesehatan Jiwa. Guna menuntut ilmu dan mencari tahu pelayanan apa saja yang setiap hari dilakukan oleh perawat jiwa.

          Tadi malam, saya mendapat pesan dari teman “Jangan lupa kawan, besok berangkat ke RSUD Banyumas. Harus sudah stand by ya jam 06.30 WIB. Mengenakan seragam putih-putih yah!” “Okke” Jawabku.

          Keesokan harinya. Saya baru sadar kalau seragam dinas praktik tertinggal, bahkan sengaja ditinggal di rumah *wadduh. Waktu itu tas sudah terisi penuh dengan barang-barang yang saya bawa dari rumah, sehingga tidak ada lagi ruang untuk menaruh seragam itu. Dengan sigap setiap contact yang ada di HP, saya hubungi. “Salam. Eh aku pinjem seragam dong. Punyaku ketinggalan di rumah.” Dijawab dengan “Aku di kos”. Haduhh lagi gelisah begini, malah dijawab dengan jawaban yang membuat saya semakin galau. Sebenarnya ada tidak seragamnya dan bersedia atau tidak meminjamkannya? Ya sudah Bismillah saja, saya berangkat dengan baju biasa menghampiri kos teman saya ini. Dan Alhamdulillah ada pemirsa. *hehee

          *di kampus. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Senang sekali mereka bertemu saya *KEPEDEAN, Jo...Heee. Kami saling salam dan menyapa, berfoto bersama mengabadikan wajah-wajah kami yang tidak asing lagi di mata dunia *hehee. Mungkin karena terlalu seringnya berfoto dan menguploadnya di jejaring social, jadi dunia sudah tidak kaget lagi melihat tampang-tampang kami *hehee. Dunia maya maksudnya. Berhubung waktu itu masih dalam suasana lebaran, kami pun meminta maaf atas salah dan khilaf yang pernah dilakukan secara sengaja atau pun tidak disadari.

          Ini yang menjadi ciri khas negeri kita, janjian jam 7 berangkat ke RSUD eh bis yang akan kami tumpangi belum juga nongol batang hidungnya, alias molor waktu. Andai saja kebiasaan ini bisa dikurangi atau bahkan bisa dihilangkan dari negeri ini, pasti gak bakal tuh kalah sama negara-negara maju.

Membaca! Iya betul. Aku membaca, menunggu bis tiba.
Setengah jam berlalu dengan membaca, lumayan dari pada ngobrol-ngobrol tidak jelas dan membuang energi. *sok-sokan lu.. heee. Bis pun datang *horree, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Bisnya hanya satu dan adduhh, ukurannya kecil pemirsa *gimana si, pak ibu? Tidak semua kebagian tempat duduk kan, lebih tepatnya aku merelakan berdiri dari pada duduk bersandingan bertiga dengan temen cewe.. *sok alim! Dari pada sok jahat. Pilih mana? hehee.

Pak supir, Tarik pak! Kami berangkat, dan saya tetap berdiri… setelah merasa capek, saya teringat kembali waktu setelah lulus SMP. Iya, waktu itu saya pernah menjadi kernet. Kernet angkutan desa jurusan Randudongkal-Moga. Saat itu pertama kalinya saya mencari uang. Anda tahu siapa yang mengemudikan angkudesnya? *Bapakmu pasti! IYA BETUL SEKALI. Bapak jadi supir dan saya kernetnya. Setiap minggunya, karena masih liburan, saya selalu diajaknya mencari rezeki dengan menarik angkudes sebagai rezeki tambahan. Awalnya malu, kemudian berjalannya waktu saya pun masih malu, *Noh hehee, maklum lulus SMP, kan banyak temen waktu itu.

Subhanallah ternyata mencari uang, tidak segampang yang dibayangkan. Harus melewati lika-liku kehidupan, lelah dan letih, serta perjuangan yang kuat. Saya merasa kecapean saat itu. Gimana tidak? Setiap Minggu pagi, penumpang lebih banyak dari kalangan pedagang. Nah mereka pasti membawa barang dagangannya ke pasar. Saya sebagai kernet, tidak mungkin dong berdiam diri dan membiarkan bapak naik-turun dari ruang supir untuk mengangkat barang-barang tersebut ke atas mobil. Akhirnya dengan kerelaan hati *Insya Allah saya turun tangan dan naik-turun mengangkat barang bawaan penumpang. Keringat bercucuran, air mata bergelimangan menghiasi muka saat itu… *hallah lebay, becanda pemirsa.

Terik panas menyengat kulit. “Dongkal-dongkal, dongkal-dongkal. Moga-moga pak, bu?” kalimat itu sering keluar saat melihat orang di pinggir jalan. Sedihnya saat bapak dan ibu yang saya tawari, mereka tolak dan lebih memilih bis. Memang luar biasa lah bapak, dia jalani kegiatan ini selama Sembilan tahun. Saat ini Alhamdulillah bapak sudah tidak menyupir angkudes lagi, bapak sudah diringankan mencari nafkah oleh Allah karena dia diangkat menjadi guru PNS. Andai saja saya tahu, banyak keajaiban menjalani shalat Dhuha. Saya nasehati bapak pelan-pelan, pasti Allah akan meringankan. Saya kagum dengan bapak, dia tidak pernah mengeluh, dia tetap semangat mencari nafkah walau sakit menimpanya. Beliau memang sifatnya keras kepala, tapi dibalik keras kepalanya, beliau memegang prinsip komitmen dan tanggung jawab yang tinggi untuk istri dan anak-anaknya. *Masya Allah. Secara tidak langsung bapak memberikan pelajaran yang begitu penting untuk saya. Terima kasih Pak. Saya juga bisa, Insya Allah. *Hayoo. Mana istri, mana? heheee becanda pemirsa.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . JOVI ARDAN BLOG - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger